Ketik sini akan bantu Blog ini

Seyogia

☼ ◙ ☼ ◙ ☼ ◙ Resah lebih kepada situs yang menemukan nilai diri Penyair iDANRADZi... ianya sekadar isu sisi bagi memeriah situs utama yang telah lama berkembang... terselit pelbagai makna yang nyata & tersembunyi. ☼ ◙ ☼ ◙ ☼ ◙... Resah lebih kepada situs yang menemukan nilai diri Penyair iDANRADZi

Khamis, 21 Februari 2013

Rumah Tanggaku Pernah Berantakan Gara-gara Ibu Mertua


Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ustaz, saya mohon penjelasan dari Ustaz tentang masalah yang sedang saya hadapi, tentunya penjelasan menurut syariat Islam yang disertai dalil-dalil al-Qur`an dan Hadits. Hal itu dimaksudkan agar saya bisa menyampaikannya kepada suami saya. Syukran katsiran atas bantuannya. Ibu mertua saya tinggal bersama keluarga kecil saya. Sebetulnya hal itu tidak jadi masalah bagi saya, malah saya merasa senang karena –kebetulan- kedua orangtua saya sudah tiada. Ibu mertua saya masih punya suami (bapak mertua saya). Kata ibu mertua, bapak mertua tidak usah ikut tinggal bersama kami, biarlah tinggal di kampung saja. Maaf, ibu mertua saya sikapnya memang selalu meremehkan suaminya (bapak mertua saya). Sedangkan suami saya, otaknya seperti sudah dicuci oleh ibunya. Dia selalu menuruti kemahuan ibunya. Di matanya, perkataan ibunya selalu benar.
Sebetulnya saya juga agak risih jika tinggal bersama ibu mertua saya, karena dia pernah menghancurkan mahligai pernikahan kami hingga dua kali. Dia pernah memerintahkan suami saya untuk selingkuh dan melakukan tindak kekerasan kepada saya. Ini adalah kali kedua kami rujuk (bersatu kembali). Semua kami lakukan semata-mata demi anak kami. Setahu saya, jika jarang bertemu dengan ibunya, suami saya termasuk orang yang baik. Apalagi dia sering berteman dengan orang-orang yang soleh. Tapi jika sudah bertemu dengan ibunya, semua menjadi gelap. Yang paling benar di matanya hanyalah perkataan ibunya. Saya takut bila ibu mertua saya ikut tinggal bersama kami, rumah tangga kami berantakan lagi. Bagaimana saya menyampaikan hal ini kepada suami saya,Ustaz?
Perlu diketahui, saat ibu mertua tinggal di kampung, kami selalu mengirim sejumlah wang untuknya. Menurut suami saya, ibunya menyuruh suami saya untuk melakukan balas budi karena sudah disekolahkan oleh sang ibu. Bahkan katanya, separuh wang gaji ibunya digunakan untuk biaya sekolah suami saya. Padahal kedua adiknya saja tahu bahwa sikap ibunya memang kurang baik. Karenanya, mereka tidak mau tinggal bersama ibu mertua saya, meskipun mereka berada dalam satu kota. Bagaimana menurut Ustaz?
Selain itu, suami saya kurang mengenal karakter ibunya, karena setelah lulus SMP, dia tidak serumah lagi dengan ibunya. Dia tinggal di maktab karena sekolahnya agak jauh. Mohon sekali jawabannya Ustaz.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
D - …..

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Saudariku yang terhormat, sebenarnya masalah yang Anda hadapi hampir mirip dengan masalah yang sudah saya bahas pada konsultasi minggu lalu, yaitu mengenai “Batasan Berbakti Kepada Orangtua”. Sebab, kedua masalah tersebut sama-sama berkaitan dengan upaya seorang anak untuk berbakti kepada ibunya dan juga sikap sang ibu yang dinilai pihak ketiga (dalam hal ini adalah isteri sang anak) sebagai sikap yang kurang menyenangkan. Karena itu, saya sarankan Anda untuk membaca kembali pembahasan tersebut agar Anda lebih mengetahui tentang batasan-batasan dalam berbakti kepada orangtua sehingga Anda dapat menjelaskannya kepada suami Anda.
Yang ingin saya tekankan di sini adalah tentang kondisi rumah tangga Anda yang sudah dua kali berantarakan akibat campur tangan pihak ketiga (ibu mertua). Di atas, Anda mengatakan bahwa ibu mertua Anda pernah menghancurkan pernikahan Anda berdua hingga dua kali, tetapi kemudian Anda berdua rujuk (bersatu kembali). Ini bererti bahwa hanya tinggal satu kesempatan lagi bagi Anda dan suami untuk menggayuh bahtera rumah tangga, karena Anda dan suami telah melakukan talak sebanyak dua kali. Menurut hukum Islam, talak yang di dalamnya boleh dilakukan rujuk hanya dua kali. Bila sampai terjadi talak lagi, maka sepasang suami-isteri yang bercerai tidak boleh bersatu kembali kecuali setelah si isteri dinikahi oleh laki-laki lain dengan pernikahan yang sah, bukan main-main atau rekayasa. Hal ini seperti dijelaskan dalam firman Allah swt.:

“Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali, (setelah itu suami dapat) menahan dengan baik, atau melepaskan dengan baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 229)
Kemudian jika dia menceraikannya (setelah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya sebelum dia menikah dengan suami yang lain.(QS. Al-Baqarah [2]: 230)
Oleh karena itu, manfaatkanlah kesempatan terakhir ini sebaik-baiknya. Bila Anda benar-benar ingin tetap bersatu dengan suami Anda, terutama karena pertimbangan anak-anak, jelaskanlah masalah ini dan juga masalah “Batasan Berbakti Kepada Orangtua” kepada suami Anda. Carilah waktu yang tepat untuk membicarakannya dengan suami, lalu diskusikanlah dengan menggunakan hati dan akal yang jernih. Ingat, jangan sampai ada emosi! Carilah solusi yang terbaik.

Sekedar masukan, ada beberapa alternatif yang mungkin bisa Anda berdua lakukan:
  1. Ibu mertua masih tetap tinggal bersama keluarga kecil Anda. Tetapi ingat, Anda dan suami harus memiliki komitmen yang tinggi untuk mempertahankan bahtera rumah tangga. Anda harus berusaha keras untuk bersabar, terutama bila ada sikap ibu mertua yang kurang menyenangkan. Sebab walau bagaimanapun, ibu suami Anda adalah ibu Anda juga, yang harus selalu dihormati dan dijaga perasaannya. Demikian pula dengan suami Anda, dia harus berani mengatakan “tidak” (menolak) kepada ibunya bila sang ibu menyuruhnya untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturan-aturan Allah, seperti menyuruhnya untuk selingkuh, seperti yang Anda sebutkan di atas. Sebab, kepatuhan kepada orangtua hanya boleh dilakukan bila tidak mengandung unsur kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Tentunya, penolakan tersebut harus disampaikan dengan cara yang baik agar tidak menyakiti hati sang ibu.'
  2.  Suruhlah suami untuk merayu ibunya agar mau tinggal di kampung bersama suaminya (bapak mertua Anda). Bila Anda memilih alternatif ini, carilah waktu yang tepat dan cara yang baik untuk menyampaikannya kepada ibu mertua Anda. Jangan lupa, Anda berdua harus berkomitmen untuk membantu sang ibu. Buatlah agar dia merasa lebih nyaman tinggal di kampung bersama suaminya. Dalam hal ini, Anda berdua bisa meminta bantuan kepada adik-adik suami Anda.
Sebagai penutup, saya ingin kembali menekankan bahwa seperti apapun sikap orangtua kita atau orangtua suami/isteri kita, mereka tetaplah orangtua kita yang harus kita hormati dan kita jaga perasaannya. Sebagai anak, kita harus bersabar bila ada sikapnya yang mungkin kurang menyenangkan. Andaikata ada penolakan yang ingin disampaikan, carilah waktu yang tepat dan kemaslah penolakan itu dengan cara yang baik. Satu lagi, ingatlah bahwa setiap orang punya masalah; dan ketika masalah itu datang, kita harus menghadapinya dengan hati dan akal yang jernih. Untuk mendapatkan solusi yang terbaik, janganlah lupa untuk memohon petunjuk dan pertolongan Allah. Wallaahu A’lam….



Batasan Berbakti Kepada Orangtua

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam kenal, Pak! Bapak dan keluarga apa khabar? Pak, saya termasuk anggota Group Pecinta al-Qur’an dan Sunnah. Saya mau tanya sedikit, sebenarnya definisi berbakti kepada orangtua itu sebatas apa? Maksudnya, sejauhmana seorang anak harus berbakti kepada ibunya? Apakah semua permintaan dan kehendak ibunya harus dituruti agar tidak menjadi anak yang durhaka? Bukannya orangtua juga bisa salah, Pak? Apakah pada saat itu kita boleh memberi saran atau masukan?
Di sini, saya ingin cerita sedikit tentang pengalaman peribadi teman saya. Suami teman saya takut sekali menolak kemauan ibunya ataupun menegur ibunya (bila sang ibu melakukan kesalahan), karena sang ibu seringkali melontarkan kata-kata “anak durhaka”. Terkadang untuk hal-hal yang remeh saja, kata-kata seperti itu sering keluar dari mulutnya. Kalau seperti itu bagaimana, Pak?
Bahkan untuk mendapatkan maaf dari sang ibu, suami teman saya itu harus mencium kaki ibunya dulu. Padahal –menurut saya- masalahnya remeh/kecil sekali. Awalnya, sang ibu pergi ke pasar bersama suami teman saya itu. Di pasar, sang ibu menawar suatu barang dengan harga tertentu. Tapi setelah penjual menyetujui harga yang ditawar sang ibu, sang ibu malah menawar lagi dengan harga yang lebih murah. Melihat itu, suami teman saya pun langsung menegur ibunya karena dia kuatir sang penjual akan marah (dan nampaknya dia memang sudah marah). Maksud hati ingin mengingatkan sang ibu, eh malah sang ibu marah-marah kepada anaknya. Lalu dia melontarkan kata-kata “anak durhaka”.

Kisah di atas hanyalah salah satu contoh saja, Pak. Mungkin masih banyak lagi kejadian-kejadian serupa yang sebenarnya berawal dari masalah-masalah remeh. Bagaimana kita harus menyikapi ibu seperti itu, Pak? Selain itu, sang ibu tidak mau “lepas” dari anaknya. Dia terlalu manja kepada suami teman saya itu. Padahal untuk isteri dan anaknya saja, suami saya itu jarang punya waktu karena pekerjaannya sangat banyak, sampai-sampai jarang ada hari libur. Apa mungkin hal itu disebabkan karena ibunya sudah janda, jadi dia ingin bermanja-manjaan dengan anaknya? Kalau seperti itu, bagaimana caranya agar suami teman saya itu bisa bersikap adil dalam mengurus ibu, anak dan juga isterinya?

Oya Pak, ada satu pertanyaan lagi, apa benar dalam al-Qur`an ada ayat yang menegaskan bahwa semua harta anak laki-laki adalah hak ibunya? Jika benar, lalu siapa yang berkewajiban menafkahi isteri dan anaknya? Mohon jawabannya, Pak! Terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
D-……

Jawaban:


Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Salam kenal juga, Bu. Alhamdulillah saya dan keluarga dalam keadaan sehat wal‘afiat. Si kecil yang beberapa hari lalu dirawat di rumah sakit pun sekarang sudah kembali ceria dan menyenangkan seperti sediakala. Mudah-mudahan ukhti dan keluarga juga demikian adanya, amin ya Robbal-‘alamin.
Seperti yang pernah saya singgung dalam salah satu konsultasi sebelumnya, birrul waalidain atau berbakti kepada orangtua merupakan amal kebajikan yang sangat besar nilainya di mata Allah swt.. Karenanya, dalam beberapa ayat Al-Qur`an, perintah untuk berbakti kepada orangtua disandingkan dengan perintah untuk menyembah Allah, seperti pada firman-Nya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Israa` [17]: 23)

Bila kita perhatikan, perintah untuk berbakti kepada orangtua dalam ayat tersebut bersifat umum. Belum ada batasan-batasan tertentu. Tetapi kemudian pengertian yang terkandung dalam ayat ini ditakhshish (dipersempit) dengan firman Allah pada ayat lain: “Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orangtuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.(QS. Al-‘Ankabuut [28]: 8)

Dari ayat kedua ini, dapat difahami bahwa tidak semua perintah orangtua harus dituruti. Bila orangtua menyuruh kita untuk keluar dari agama Islam atau untuk melakukan kemusyrikan, maka kita wajib menolaknya. Inilah yang pernah dilakukan oleh Sa’ad bin Abi Waqash kepada ibunya. Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqash ra., bahwa dia berkata: “Aku adalah seorang laki-laki yang berbakti kepada ibuku. Ketika aku masuk Islam, ibu berkata: ‘Agama apa yang kamu peluk itu, wahai Sa’ad? Kamu harus meninggalkan agamamu itu, atau aku tidak akan makan dan minum sampai aku mati, sehingga kamu akan dicemoh (oleh orang-orang) karena kematianku, dan akan dikatakan kepadamu: ‘Wahai Sang Pembunuh ibunya.’ Aku menjawab: ‘Ibu, janganlah engkau melakukan itu, karena aku tidak akan pernah meninggalkan agamaku ini karena alasan apapun.’ Setelah melihat sang ibu mogok makan selama satu hari satu malam, Sa’ad berkata: ‘Wahai ibuku, demi Allah, ketahuilah bahwa seandainya engkau memiliki seratus nyawa, kemudian nyawa-nyawa itu keluar dari dirimu satu persatu, maka aku tidak akan pernah meninggalkan agamaku ini.’” Melihat kesungguhan Sa’ad, sang ibu pun akhirnya menghentikan aksi mogok makannya itu.
Selain itu, pengertian firman Allah dalam QS. Al-Israa` (17): 23 juga ditakhshish (dipersempit) oleh Hadits Nabi saw. yang berbunyi: “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal kemaksiatan kepada Allah.” Secara tegas, Hadits ini menjelaskan bahwa seorang Muslim dilarang untuk menaati perintah siapapun -termasuk orangtua- yang mengandung unsur kemaksiatan kepada Allah, Sang Khaliq. Yang dimaksud dengan “maksiat” (kemaksiatan) adalah perbuatan mendurhakai atau tidak mematuhi perintah Allah (dan Rasul-Nya), atau melanggar aturan Allah. Dari sini, maka para ulama pun mendefinisikan term “birrul waalidain” (berbakti kepada orangtua) dengan definisi sebagai berikut: Berbakti kepada kedua orangtua adalah berbuat baik kepada mereka, memenuhi hak-hak mereka, dan menaati mereka dalam hal-hal yang bersifat sunah dan mubah, bukan pada hal-hal yang sifatnya wajib atau haram. Artinya, seorang anak harus menuruti perintah orangtuanya selama perintah itu tidak untuk meninggalkan perbuatan yang wajib hukumnya ataupun melakukan perbuatan yang diharamkan. Sebagai contoh, bila seorang ibu menyuruh anaknya untuk melakukan satu pekerjaan tertentu, yang dengannya dia harus meninggalkan shalat, maka sang anak wajib untuk menolak perintah tersebut. Demikian pula bila sang ibu menyuruh anak laki-lakinya meninggalkan begitu saja (menelantarkan) isteri dan anaknya agar dia menikah dengan wanita pilihan ibunya, maka sang anak harus menolak perintah tersebut, karena menelantarkan isteri dan anak merupakan perbuatan yang dilarang Allah swt..

Tetapi perlu diingat, andaikata seorang anak terpaksa harus menolak perintah orangtuanya karena perintah tersebut bertentangan dengan aturan Allah (yang bersifat wajib atau haram), maka penolakan itu harus disampaikan dengan cara yang baik, dengan perkataan yang halus dan tidak bernada “membentak”, sebagaimana disinyalir dalam firman Allah swt.: “dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.(QS. Al-Israa` [17]: 23) Selain itu, sang anak juga harus tetap memperlakukan orangtuanya dengan baik, meskipun ada perbedaan pandangan di antara mereka. Allah swt. berfirman: “…..dan janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.(QS. Luqman [31]: 15)

Saudariku yang terhormat, pada kasus yang Anda sebutkan, saya melihat bahwa sang anak belum wajib untuk menolak kemauan sang ibu. Sebab, masalah tawar menawar dalam jual beli merupakan satu hal yang sifatnya mubah (tidak terkait dengan hukum wajib ataupun haram seperti yang dijelaskan di atas). Apalagi dalam kajian fikih muamalah, dikenal istilah khiyar majlis, yaitu hak untuk meneruskan atau membatalkan akad (transaksi) selama kedua belah pihak belum berpisah dari tempat transaksi. Bahkan menurut Imam Syafi’I dan Hanbali, sang ibu masih boleh membatalkan transaksi yang dilakukannya itu meskipun sudah dilakukan ijab qabul (serah terima uang dan barang), selama mereka belum berpisah.
Menurut hemat saya, andaikata sang anak memang ingin memberikan masukan pada saat itu karena hal seperti itu dianggap tidak baik menurut adat/kebiasaan/etika (meskipun dibolehkan secara hukum), maka dia harus ektra hati-hati dan harus melihat kondisi sang ibu. Jangan sampai niat baiknya itu akan menyinggung perasaan sang ibu. Apalagi bila dia tahu bahwa ibunya termasuk tipe orang yang sangat sensitif.
Kalau saya boleh menilai, suami teman Anda itu termasuk orang yang sangat berhati-hati dan khawatir bila dirinya tidak bisa meraih ridha orangtua. Bahkan dia rela untuk mencium kaki sang ibu hanya untuk mendapatkan maaf darinya. Mungkin dia ingin mengamalkan Hadits Nabi saw.: “Reda Allah terletak pada reda kedua orangtua, dan murka Allah terletak pada murka kedua orangtua.
Tetapi dia juga harus ingat, jangan sampai hal itu menyebabkan dia melalaikan tugas dan kewajibannya sebagai suami dan ayah. Dia dituntut harus benar-benar bersikap adil sehingga tidak ada yang dikorbankan, meskipun dalam hal pelayanan, orangtua harus tetap didahulukan. Dalam sebuah Hadits shahih disebutkan sebuah kisah tentang 3 orang yang masuk ke dalam gua, tetapi kemudian pintu gua tersebut tertutup oleh batu. Batu itu baru bisa digeser setelah setiap orang di antara mereka berdoa kepada Allah dengan menyebutkan amal kebajikannya masing-masing. Salah seorang di antara mereka adalah orang yang sangat berbakti kepada orangtuanya. Dia berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai kedua orangtua yang sudah lanjut usia, seorang isteri dan juga seorang anak. Aku menggembala untuk (menghidupi) mereka. Setelah aku mengandangkan ternak, aku memerah susunya. Lalu aku mulai memberikan susu itu kepada kedua orangtuaku sebelum aku memberikannya kepada anakku.” (HR. Muslim)

Dari penjelasan di atas, saya berani mengatakan bahwa bila suami teman Anda itu bisa bersikap seperti itu dengan tidak melalaikan kewajibannya sebagai suami dan ayah, maka teman Anda itu sangat beruntung. Dia seharusnya rela dan mendukung sikap suaminya itu. Sebab, bisa jadi saat tua nanti, dia dan juga suaminya itu akan diperlakukan seperti itu oleh anak dan menantunya.
Mengenai pertanyaan terakhir, saya tegaskan bahwa tidak ada satu ayat atau Hadits pun yang menyatakan bahwa semua harta anak laki-laki adalah hak ibunya. Memang ada satu riwayat yang mengisyaratkan bahwa seorang ayah boleh membelanjakan harta anaknya, tetapi itu merupakan kekhususan yang diberikan Allah kepada ayah, dan hal itu hanya boleh dilakukan secara tidak berlebihan dan tidak memudharatkan anaknya.Tapi dari segi hukum, harta itu tetap milik anaknya, bukan milik ayahnya. Oleh karenanya, ketika sang anak meninggal, maka harta itu harus dibagikan kepada semua ahli waris, termasuk ayah dan ibu. Bila anak laki-laki itu memiliki anak atau saudara, maka ibu hanya mendapat seperenam. Tetapi bila dia tidak mempunyai siapa-siapa kecuali ayah ibunya (yang masih hidup), maka sang ibu mendapat sepertiga bagian dari harta yang ditinggalkan (Lihat QS. An-Nisaa` [4]: 11)
Demikian yang bisa saya jelaskan, mudah-mudahan bermanfaat. Wallaahu A’lam….

Perceraian, Bukan Jalan Akhir.

Oleh: Ajie Nugroho
Disunting: iDANRADZi

Perceraian, kata yang pasti akan sangat dihindari oleh pasangan yang akan atau sudah terikat dalam satu janji suci pernikahan. Bagi pasangan yang saling mencintai satu sama lain, kata perceraian sangatlah dihindari, bahkan kata itu takkan pernah terlintas di benak mereka. Namun seiring perjalanan waktu, di tengah badai ujian rumah tangga, perceraian kerap kali diambil sebagai satu - satunya jalan buat para pasangan dengan dalih menyelamatkan kehidupan anak atau dirinya sendiri, atau demi kebahagiaan bersama.

Benarkah perceraian adalah salah satu jalan terbaik? Pernah kata-kata itu melintas di benak aku tatkala kehidupan rumah tangga aku diguncang purak peranda yang tiada berkesudahan. Jawapannya Perceraian bukanlah jalan terbaik. Jawapan itu secara tidak sengaja aku dapatkan dari seorang teman lama yang kebetulan bertemu di salah satu kedai makanan tempat dia berjualan. Karena menurut teman aku ini, batinnya menderita tatkala melihat anak-anaknya yang sedang beranjak dewasa itu harus menghadapi kenyataan pahit perpisahan kedua orang tuanya demi ego mereka berdua.

Setelah memikirkan kembali perbualan dengan teman, aku memutuskan untuk kembali membuat komitmen baru dengan pasangan demi keselamatan keluarga terutama anak - anak. Dan Alhamdulillah sampai sekarang rumah tangga berjalan dengan baik.

Kembali kata perceraian ini mengusik benak aku tatkala melihat berita makumat di salah satu acara TV tentang maraknya perceraian di kalangan artis. Sebenarnya sangat menghairankan mendengar beberapa artis mengatakan bahwa mereka berpisah secara baik-baik, bahkan ada yang bilang tidak ada masalah dalam rumah tangga mereka.

Perceraian meski telah di sepakati kedua belah pihak tentunya karena ada faktor yang meruncing. Banyak sekali masalah dalam rumah tangga yang sebelumnya tak pernah terpikirkan oleh pasangan. Entah faktor ekonomi, kehadiran orang ketiga, atau bahkan campur tangan pihak ketiga (mertua/keluarga salah satu pasangan). Karena tidak mungkin kata cerai dilontarkan dari pasangan yang tidak punya masalah bererti di satu hubungan pernikahan.

Dan perceraian akan meninggalkan beberapa masalah yang mungkin tak pernah terpikirkan mereka yang mengambil keputusan itu. Karena walau anggapan mereka lepas dari satu masalah, mereka tidak menye ari masalah lain muncul mengiringi perpisahan itu. Faktor kejiwaan anak (bagi pasangan yang telah mepunyai anak), biasanya luput dari fikiran pasangan yang bercerai. Meski sang anak jauh hari telah “dipersiapkan” menghadapi perpisahan kedua orang tuanya, di satu waktu sang anak akan merasakan bahwa ada yang kurang dalam kehidupannya. Beruntung jika si anak - anak korban perceraian ini tak pernah merasa kekuarangan perhatian dan kasih sayang kedua orang tua kandungnya. Tapi bukan hal yang mustahil kalau kemudian sang anak merasa diketepikan saat salah satu orang tuanya yang kemudian memilih menikah lagi dan bahkan memberinya saudara tiri. Ini akan jadi satu masalah bagi jiwa sang anak korban perceraian.

Perceraian, meski dihalalkan (dalam hukum islam yang aku anuti) tapi Allah sangat murka. Ada banyak solusi sebelum pasangan mengambil jalan ini. Misalnya mendatangkan wakil/orang yang disegani dan menguasai hukum agama dengan baik, mendatangi lembaga penasihat perkawinan atau dengan saling berbicara dengan hati ( yang ini mungkin bisa dilakukan di suatu tempat yang mempunyai nilai kenangan yang baik kedua pasangan).

Aku  menyayangi pasangan yang baru beberapa tahun menikah sudah berani mengambil keputusan bercerai dengan alasan yang sangat tidak masuk akal, tidak cocok satu sama lain. Ketidak cocokan pasangan seharusnya sudah difahami kedua belah pihak, apalagi yang usia pacaran mereka cukup panjang. Dan ketidak cocokan itu sudah menjadi hal yang manusiawi bagi kita sebagai insan yang dikurnia anugerah lebih dari Yang Maha Kuasa, iaitu perbedaan. Dengan saudara serahim dan sebapak saja kadang kita berbeda pendapat dan pandangan, apalagi dengan orang yang baru kita kenal setelah dewasa. Dan ketidak cocokan antara pasangan ini tidak seharusnya menjadi alasan buat mereka mengambil keputusan bercerai, karena dengan pembicaraan dari hati ke hati akan terbuka jalan buat mereka saling melengkapi perbedaan itu. Jadi perceraian yang dikaitkan ketidak cocokan itu takkan pernah terjadi.

Lain halnya bila perceraian disebabkan kehadiran orang ketiga alias Curang/PIL.  Tentu masalah ini perlu pembicaraan yang  memakan waktu dan perhatian khusus.  Luka yang ditimbulkan akibat perselingkuhan juga tidak akan sembuh seketika Perlu waktu panjang buat menyembuhkan hati yang terluka karena diduakan.  Tapi tidak ada masalah di dunia ini yang tidak bisa terselesaikan. Perlu ketegaran hati untuk bisa menerima kembali pasangan kita yang sudah menyakiti hati kita sejauh kita bisa  menimbang dengan penuh kesedaran untung ruginya kata perceraian. Dengan kata lain persiapkan hati kita sebagai hati seluas samudera. Asalkan ada usaha yang baik kedua pasangan untuk membenahi ikatan pernikahan tentu rumah tangga akan terselamatkan, dan masing-masing pihak tidak merasa dirugikan oleh pasangan.

Rumah tangga memang tak selamanya berjalan mulus layaknya jalanan tol, ada kalanya jalan berkelok, mendaki atau menurun. Diperlukan mental yang kuat bagi siapa saja yang telah memasuki kehidupan perkahwinan ini. Namun tidak semestinya kita kemudian takut memasuki gerbang pernikahan hanya karena trauma pada satu kata perceraian, karena dalam kehidupan semua orang takkan luput dari yang namanya cubaan hidup. Jadi bila anda adalah pasangan yang sedang merajut tali kasih untuk menuju satu ikatan pernikahan, jangan hanya membicarakan yang indah-indah saja,ada baiknya bincangkan juga kemungkinan terburuk yang akan dihadapi nanti setelah mereka menikah. Agar jika suatu saat mereka menghadapi masalah bisa di selesaikan dengan baik tanpa ada kata perceraian. Dan janji suci di altar pernikahanpun tak ternodai.

Persoalan rumah tangga memang kadang rumit dan sepertinya tidak ada jalan keluar selain berpisah. Namun sebelum mengambil keputusan alangkah bijaknya kita merungkai terlebih dahulu persoalan yang kita hadapi dengan kelapangan dada masing - masing,  dengan harapan kembali tercipta keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah.

Rabu, 19 Disember 2012

resah v

tak hijau lagi
semuanya berbaur rona
amat sukar
untuk aku memilihnya

Suami Aktres Kena Mandrem Dengan Bekas Personaliti TV!

addthis kongsi icon
KL, 20 DIS: Kalau tengok pada keadaan sekarang dengan teknologi dan segala macam, pelbagai saluran boleh digunakan untuk menyampaikan sesuatu. Tetapi, Murai Batu kadangkala lagi suka kalau betul-betul dengar daripada tuan punya badan atau pun melihat bukti-bukti dahulu kalau mahu ia dikongsi dengan pembaca Murai.
Bukan apa, kadang-kadang tu ada benda yang boleh dikongsi dan ada juga yang kena tengok dahulu cerita tersebut, baru boleh digosipkan. Wah, tiba-tiba Murai Batu rasa berhemah sekejap. Apapun, kasihan Murai Batu dengan nasib yang menimpa seorang aktres jelita ini. Lebih-lebih lagi selepas melihat sendiri bukti yang telah ditunjukkan teman mengenai kisah yang menimpa aktres tersebut.
Mana tidaknya, tidak senang duduk aktres tersebut bila melihat 'Datuk'nya kini bagai lembu dicucuk hidung oleh seorang wanita yang juga bekas personaliti televisyen. Aktres yang bergelar Datin ini hairan dengan tingkah laku suaminya sebab walaupun sudah berkahwin beberapa tahun lepas, namun hubungan mereka sebelum ini memang tidak ada sebarang masalah.
Tapi, sekarang ini lain pula jadinya. Suaminya itu seperti dikawal oleh perempuan itu. Pada awalnya, bekas personaliti itu mempunyai hubungan kerja dengan suami kepada aktres berkenaan. Namun, lama kelamaan ia bertukar menjadi sesuatu yang diluar jangkaan.
Lebih mengejutkan apabila suaminya kini sudah sebulan tidak pulang kerumah. Katanya, dia pergi bercuti keluar negara bersama wanita tersebut. Aktres itu cuba menghubungi suaminya namun dia telah diminta untuk tidak mengganggu mereka berdua.
Perkara ini telah membuatkan aktres tersebut merasakan ada yang tidak kena kerana dia mengenali suaminya dan dia tidak akan berbuat begitu. Pada pemerhatiannya dia merasakan suaminya telah termakan kata-kata wanita itu atau telah disihirkan. Atau dengan kata lain kena buat atau kena mandrem....
Hairan juga Murai Batu dengan sikap personaliti yang sudah berada dalam lingkungan lewat 30an itu. Padahal, dia banyak pencapaian dalam pelbagai bidang dan dikenali dengan imej bersih. Tidak sangka pula bila sudah senyap dia cuba mengganggu rumahtangga aktres ini pula dengan cara kotor pula ya.
Memang agak menghairankan Murai Batu bila mendengar cerita ini dan tidak menyangka bekas personaliti televisyen itu sanggup menggunakan cara-cara kotor untuk meraih sesuatu. Tetapi kenapa mesti suami aktres tersebut? Apa yang ada pada suami aktres itu?
Ramai lagi datuk-datuk duda ataupun yang single muda-muda berada di pasaran. Yang tidak sedapnya bila Murai Batu dengar pasal black magic pula, minta selisih okay. Takut! Kalau dah terkena, bukannya mudah mencari penawar. Yang tak pernah kena, berdoalah pada Tuhan, moga dijauhkan perkara itu daripada kita. Mudah-mudahan kita berada dalam keadaan sihat sejahtera hendaknya. Amin.
MURAI BATU: Kalau Murai Batu pergi mandi bunga naik seri wajah dikira black magic tak? Seram!

Kekasih Main Kayu Tiga Depan Mata

addthis kongsi icon
Kekasih Main Kayu Tiga Depan Mata
KL, : Kisah yang Murai Batu hendak kongsikan, rasanya agak menyedihkan juga. Teman Murai Batu menyampaikan cerita mengenai kisah seorang pelakon wanita yang makan hati dengan kekasih hatinya yang juga seorang pelakon.

Kisah percintaan mereka ini sememangnya mendapat perhatian ramai. Ada sesetengah pihak yang suka, ada juga yang menyampah dengan pasangan tersebut.

Hendak dijadikan cerita, jelas teman Murai Batu, dalam mereka bercinta sakan, rupa-rupanya si lelaki tersebut bermain kayu tiga dengan kekasih hatinya itu.

Kata teman Murai Batu, kalau si lelaki itu bermain kayu tiga di belakang kekasihnya itu tidak mengapa, tetapi rupa-rupanya di depan mata.

Khabarnya, artis wanita tersebut sudah beberapa kali terserempak dengan kekasih hatinya itu bersama wanita lain.

Kalau sekali dua mungkin boleh dimaafkan, namun sekiranya sudah melebihi tiga kali, mahu tak naik 'angin meroyan' artis wanita berkenaan.

Apabila difikir-fikirkan, lebih baiklah dia menarik diri dan meninggalkan teman lelakinya itu daripada terus ditipu.

Namun terang teman Murai Batu lagi, artis wanita berkenaan, masih lagi menyayangi kekasih hatinya.
Cuma apabila terkenangkan perbuatannya itu, membuatkan artis wanita berkenaan tekad untuk meninggalkannya daripada berterusan makan hati.

MURAI BATU: Ada dua orang artis yang sedang membuat persiapan perkahwinan di Indonesia. Siapakah agaknya?

Selasa, 2 Oktober 2012

Di atas padang sejarah

A Samad Said, 14 Jan 2013


Di dataran sejarah suara kita sesubur rumput,
bisik kalbu bergaung garang tanpa resah tanpa takut.
Lagu kita rindu demokrasi darjat awan tertinggi
mengindah ufuk senja merai kemerdekaan diri.

Rumput di kaki, awan di kepala, gah iringi murba,
seramainya, sederapnya, setulusnya,

kita bersama menjulang panji negara,
bangga dicium angin jati
di tengah gelora kita sebangsa dan sejiwa murni.

Di atas padang sejarah pantang kita mungkiri janji
setiap tapak dan langkah mengisi rindu demokrasi.
Diri kita amat padu maruah senandung setulus hati
melunturkan wewarna zalim, menyuburkan kuning berseri.

Kita tenaga jati gah berjuang demi keadilan;
kita terbang sederas sinar julang panji kebenaran.

2—3, Oktober, 2012. A. SAMAD SAID.

Rabu, 12 September 2012

Maut angkara cinta ditolak

ANAK panah menunjukkan arah Nurul Syafika terjatuh lalu mati di Kondominium PV13, Setapak semalam.


KUALA LUMPUR - Seorang gadis yang kecewa apabila cintanya tidak dibalas sempat menghantar khidmat pesanan ringkas (SMS) memohon maaf kepada rakan-rakan dan kenalan lelakinya sebelum dia maut selepas dipercayai terjatuh dari tingkat 23 di Kondominium PV13, Jalan Genting Klang, Setapak di sini semalam.

Kejadian pukul 4 pagi itu mengakibatkan Nurul Syafika Jamaluddin, 24, maut akibat cedera parah di kepala dan badan. Mangsa dikatakan baru menamatkan pengajian di Universiti Putra Malaysia, Serdang.

Mayat mangsa ditemui oleh seorang penghuni kondominium yang terdengar bunyi seperti objek terjatuh dan sebaik ditinjau, dia terkejut apabila menemui mangsa yang lengkap berpakaian dalam keadaan berlumuran darah di tingkat bawah.

Difahamkan, mangsa menyewa bersama abangnya di Seri Kembangan, Selangor dan datang ke premis itu untuk bertemu dengan teman lelakinya yang menetap di tingkat 23. Mereka berkenalan sejak tiga bulan lalu dan lelaki itu merupakan seorang kerani di sebuah jabatan kerajaan di Putrajaya.

"Ketika kejadian, lelaki berusia 24 tahun tersebut tiada di rumah dan mangsa memasuki rumah berkenaan dengan menggunakan kunci pendua.

"Siasatan awal percaya mangsa terjatuh kerana mempunyai masalah peribadi selepas cintanya ditolak namun motif sebenar kejadian masih disiasat," kata satu sumber ketika dihubungi Kosmo! di sini semalam.
Sebelum kejadian, mangsa yang berasal dari Muar, Johor dikatakan sempat menghantar SMS kepada abangnya memaklumkan dia akan pulang ke rumah. Mangsa turut menghantar SMS memohon maaf kepada rakan-rakan termasuk kenalan lelakinya itu.
Sementara itu, seorang jiran yang enggan dikenali memberitahu, dia menyedari kejadian itu ketika bangun untuk menunaikan solat dan terdengar bunyi kecoh di luar bangunan.

"Saya tidak pernah nampak dia (mangsa) sebelum ini, tetapi difahamkan dia terjatuh ketika berada di tingkat 23," dakwanya.

Ketua Polis Daerah Sentul, Asisten Komisioner Zakaria Pagan mengklasifikasikan kes itu sebagai mati mengejut dan mayat mangsa dibawa ke Hospital Kuala Lumpur untuk bedah siasat.